Sejak menetapkan target minimal 6000 langkah per hari, maka setiap ada tugas ke luar kota pun, saya berusaha untuk tetap jalan kaki di pagi hari.
Menginap di hotel berbintang di pusat kota sering kali identik dengan kenyamanan kamar dan sarapan mewah. Namun, saat saya menginap di Wyndham Surabaya, justru pengalaman paling berkesan datang dari aktivitas sederhana, yaitu jalan pagi. Langkah saya pagi ini menyusuri denyut kota Surabaya, ternyata membawa saya melewati ikon sejarah, ruang publik favorit warga, hingga bersinggungan langsung dengan fenomena fotografer jalanan yang sempat viral di media sosial.
Mengawali Hari dengan Jalan Pagi dari Wyndham Surabaya
Pukul 5 pagi, saya sudah keluar dari kamar di lantai 5. Menuju lift untuk turun ke lobby, dan selanjutnya keluar dari area hotel. Tak ada tujuan khusus hari itu, hanya berjalan kaki saja, menyusuri trotoar sampai capek, lalu balik ke hotel lagi. Kalau masih kuat ya, jalan kaki. kalau udah capek banget, bisa pesan ojol buat balik ke hotel.

Senengnya jadi pejalan kaki di surabaya tuh, trotoarnya lebar banget! Jam segitu, saya keluar, kondisi trotoar sudah bersih. Di beberapa titik, saya ketemu dengan petugas dinas kebersihan yang sedang menyapu jalan. Saya bertemu juga dengan sesama pejalan kaki, bahkan juga pesepeda. Jalan raya masih sepi, satu dua sepeda motor melintas, dengan kecepatan tinggi.
Saya berjalan santai saja, karena memang ingin menikmati suasana juga. Kadang berhenti sejenak, mengamati obyek menarik lebih lama. Hingga akhirnya saya ketemu obyek berwarna kuning di persimpangan jalan, yang saat membuka aplikasi peta di handphone, saya ketahui obyek tersebut adalah monumen bambu runcing.
Monumen Bambu Runcing, Jejak Perlawanan di Tengah Kota
Monumen bambu runcing berdiri tegak di tengah kota, tepatnya di Jl. Panglima Sudirman, Embong Kaliasin, Kec. Genteng, Surabaya. Monumen ini menjadi simbol perjuangan rakyat Surabaya dalam mempertahankan kemerdekaan. Bentuk bambu runcing yang menjulang ke atas seakan menegaskan semangat perlawanan yang tak pernah padam.

Di pagi hari, kawasan ini berubah fungsi menjadi ruang olahraga terbuka. Banyak orang berhenti sejenak, melakukan peregangan, atau sekadar mengatur napas sebelum melanjutkan lari. Di beberapa sudut, saya melihat fotografer jalanan dengan kamera siap di tangan, memperhatikan pergerakan orang-orang yang melintas. Ada yang berdiri, ada juga yang duduk di trotoar.
Mereka tak sekadar memotret asal-asalan. Posisi berdiri, arah cahaya matahari, hingga latar belakang monumen tampak diperhitungkan dengan matang. Kamera terangkat cepat saat ada momen menarik, pelari maupun rombongan pesepeda yang melintas.
Saya memilih melipir lewat di belakang para fotografer jalanan itu, supaya nggak kena jepretan kameranya. Walau udah yakin juga bahwa saya bukan obyek yang menarik buat kamera mereka. Jadi melintas di depannya pun, bakal aman dari jepretan. Tapi daripada menghalangi dan menganggu pandangan mereka, tetap saya pilih lewat belakangnya saja.
Fenomena Fotografer Jalanan, Antara Apresiasi dan Ketidaknyamanan
Beberapa waktu sebelum perjalanan ini, fenomena fotografer jalanan sempat viral di media sosial. Foto-foto hasil jepretan mereka beredar luas, terpajang di sebuah website, lengkap dengan watermark dan opsi pembelian.
Fenomena ini memunculkan dua pandangan yang bertolak belakang.
Di satu sisi, ada yang merasa kurang nyaman. Mereka kaget ketika mendapati foto dirinya yang sedang berolahraga atau berjalan santai, dipajang di web tanpa izin terlebih dahulu. Bagi sebagian orang, hal ini menyentuh isu privasi, terlebih ketika foto tersebut kemudian bernilai komersial.
Namun di sisi lain, tak sedikit yang justru merasa senang. Banyak orang mengaku jarang memiliki foto bagus saat berolahraga. Jepretan fotografer jalanan dianggap mampu menangkap momen natural yang sulit diperoleh jika memotret sendiri. Meski harus menebus foto tersebut dengan sejumlah uang, mereka menganggapnya sebagai bentuk apresiasi terhadap karya fotografi.
Berada langsung di lokasi membuat saya memahami kedua sudut pandang tersebut. Aktivitas di ruang publik memang terbuka untuk dilihat siapa saja, tetapi komunikasi dan etika tetap menjadi kunci agar semua pihak merasa nyaman.
Menyapa Pagi di Alun-Alun Kota Surabaya
Perjalanan berlanjut menuju Alun-Alun Kota Surabaya. Mungkin karena sudah lebih terang dan ruang terbukanya lebih banyak, area ini lebih ramai dibandingkan Monumen Bambu Runcing. Pepohonan rindang, jalur pedestrian yang luas, dan ruang terbuka menjadikan alun-alun sebagai magnet bagi warga untuk berolahraga di pagi hari.

Ada keluarga yang berjalan santai, pesepeda yang melintas dengan kecepatan sedang, hingga sekelompok orang yang melakukan peregangan ringan. Lagi-lagi, saya menemukan beberapa fotografer jalanan di titik-titik strategis. Mereka berdiri tenang, mengamati komposisi cahaya dan gerak, menunggu momen terbaik untuk menekan tombol shutter.
Kadang kamera terangkat cepat saat ada pesepeda melaju dengan latar pepohonan hijau, kadang diarahkan pada pejalan kaki yang tersenyum menikmati pagi. Di momen-momen seperti ini, saya bisa merasakan sendiri mengapa sebagian orang menikmatinya: foto-foto ini bisa menjadi kenangan personal yang cantik dan tak terduga.
Namun tentu saja, kesadaran akan privasi tetap penting. Ada satu fotografer yang saya temui pagi itu tampak lebih dulu bertanya sopan kepada subjeknya sebelum memotret, atau setidaknya memberi isyarat dengan melambaikan tangan pada pesepeda yang melintas, saat mengambil gambar. Sikap seperti ini, menurut saya, adalah jembatan yang baik antara menangkap momen dan menghormati ruang pribadi orang lain.
Jalan Pagi yang Membuka Perspektif Baru
Jalan pagi dari Wyndham Surabaya ternyata bukan sekadar aktivitas fisik. Ia menjadi perjalanan reflektif tentang bagaimana ruang publik digunakan bersama, oleh pejalan kaki, pesepeda, pelari, dan juga fotografer.
Jalan pagi menuju Monumen Bambu Runcing hingga Alun-Alun Kota Surabaya ternyata bukan hanya soal membakar kalori. Rute ini menawarkan pengalaman berbeda bagi saya, perpaduan antara sejarah, ruang publik modern, denyut kehidupan kota yang perlahan bangun dari tidur, dan refleksi soal bagaimana kita berbagi ruang dengan orang lain, termasuk dengan mereka yang membawa kamera siap jepret.
Sekitar pukul 6, saya sampai kembali di hotel. Ternyata, nggak ada 6000 langkah kaki saya pagi itu. Tubuh terasa lebih segar, dan pikiran juga diperkaya oleh pengalaman. Jalan pagi ini mengajarkan bahwa di balik aktivitas rutin, selalu ada cerita yang menunggu untuk disadari, entah lewat langkah kaki, kilatan kamera, atau perdebatan kecil tentang etika di ruang publik.