keindahan danau tolire

Permukaan air danau yang tenang, dengan latar belakang gunung yang menjulang tinggi. Penuh dengan pepohonan hijau, deretan awan putih menutupi puncaknya. Sungguh pemandangan indah yang tersaji dihadapan saya sore itu, pemandangan keindahan Danau Tolire yang berada di Ternate, Maluku Utara.

Danau Tolire besar, demikian masyarakat Ternate menyebutnya, memang berada di kaki gunung Gamalama. Tempat inilah yang saya datangi saat itu. Sementara itu ada pula Danau Tolire kecil, letaknya di pesisir pantai, yang saya lewati dalam perjalanan menuju Danau Tolire besar.

Air danau berwarna hijau, permukaan airnya jauh dari bibir tebing dimana kaki saya berpijak. Airnya bersih, walau di sepanjang tepian danau banyak pepohonan, tak nampak daun-daun kering di permukaan airnya.

Keindahan danau Tolire
Danau Tolire besar

Kisah Mistis di Balik Keindahan Danau Tolire

Dalam perjalanan menuju Danau Tolire ini, rekan seperjalanan saya mengisahkan bahwa ada buaya yang menunggu danau Tolire ini. Ada larangan supaya pengunjung tidak melontarkan kata-kata yang tidak pantas saat berada di kawasan danau Tolire.

Rekan saya bercerita bahwa belum lama ini ada 3 remaja, seusia anak SMA yang memancing di danau Tolire. Mereka bercanda dan salah satu remaja itu mengucapkan kata-kata makian, kata-kata kotor. Dan tiba-tiba ada buaya yang melompat dari arah danau, menangkap anak tersebut, sementara dua temannya berlari ketakutan lalu melapor pada orang tuanya.

Lantas dilakukan upacara adat di Danau Tolire, lalu tiga hari kemudian, si remaja yang dibawa buaya itu pulang ke rumah. Dalam keadaan selamat, walau nampak linglung.

Kejadian itu seolah mengingatkan lagi masyarakat, yang sudah mulai luntur kepercayaannya untuk menghormati danau Tolire. Jadi di danau itu memang ada papan peringatan, larangan untuk memancing dan berkata tidak baik di danau.

Danau Tolire besar
Papan peringatan di dinding pembatas Danau Tolire besar

Legenda Terbentuknya Danau

Menurut kepercayaan masyarakat, Danau Tolire terbentuk sebagai kutukan karena ada perbuatan tak pantas yang dilakukan oleh seorang ayah dengan putrinya.

Saya peroleh informasi dari situs kebudayaan kemdikbud, bahwa pada suatu malam diselenggarakan pesta di sebuah desa di kaki Gunung Gamalama. Pesta meriah dilengkapi dengan sajian berupa minuman keras. Semua warga desa meminumnya, dan sudah bisa ditebak, mereka pun mabuk.

Dalam pengaruh minuman keras, pemimpin desa tak bisa lagi mengenali bahwa gadis cantik yang ada dihadapannya adalah putrinya. Dan malam itu, terjadilah hubungan terlarang diantara keduanya.

Mengetahui hal ini, tak hanya warga desa yang marah, alam pun murka. Terjadilah gempa, tanah terbelah dan menenggelamkan desa tersebut. Sang ayah dan beberapa warga desa yang tak sempat melarikan diri, turut tenggelam. Terbentuklah Danau Tolire Besar. Warga yang tenggelam dipercaya berubah menjadi buaya dan memiliki tanggung jawab untuk menjaga danau Tolire besar ini.

Sementara itu, si anak gadis berhasil melarikan diri, tidak turut tenggelam. Dia lari ke bawah, ke arah laut dan berniat untuk naik perahu menyeberang laut. Namun belum sampai naik perahu, kembali terjadi gempa yang menenggelamkannya, dan terbentuklah danau Tolire kecil di pesisir pantai.

keindahan danau Tolire
Danau Tolire besar di kaki gunung dan danau Tolire kecil di pesisir pantai (sumber gambar kompas.com)

Jika Anda melakukan perjalanan dari arah kota Ternate, maka akan melewati danau Tolire kecil sebelum sampai ke Danau Tolire besar.

Hormatilah Kearifan Lokal Masyarakat

Terlepas benar atau tidaknya legenda tersebut, jika berada di tempat baru, sebaiknya kita menghormati kearifan lokal masyarakat setempat. Jangan melanggar larangan yang ada. Walau dalam hati menentang, tak percaya, tapi cukup disimpan dalam hati saja. Di mana bumi di pijak, disitu langit di junjung, masih ingat dengan peribahasa ini kan?

Bagaimana pun, nyatanya legenda tersebut mampu membuat danau Tolire tetap terjaga kelestariannya sampai sekarang. Lingkungan yang tetap hijau, air danau yang tetap jernih tentunya menjaga ekosistem tetap lestari bagi tanaman maupun hewan-hewan yang ada di lingkungan danau dan sekitarnya.

Pengen menikmati keindahan Danau Tolire juga? Luangkan dan anggarkan untuk bisa ke Ternate yang dikenal sebagai kota rempah ini. Ada banyak keindahan di sana selain Danau Tolire ini.

Biayanya?

Saya sendiri berangkat dari Malang. Malang ke Juanda Surabaya dengan travel 150 ribu rupiah. Kemarin tiket Surabaya ke Ternate dengan transit di Makassar, dapat harga 2 juta 200 ribu rupiah. Saya pakai maskapai Lion Air. Ada juga Super Airjet dan Citilink kalau dari Juanda, tentu dengan harga yang lebih mahal.

6 thoughts on “Mengagumi Keindahan Danau Tolire di Ternate”
  1. Wah…sudah smp Ternate. Waktu sama temen¬≤ ke Maluku Tengah, pulangnya ada temen lain mampir ke Ternate u/ diving. Pan kapan pengen juga ke Ternate. Nabung dulu, soalnya dari Bandung

    1. Saya kemarin mungkin karena sudah sore dan menjelang maghrib, nggak ada petugas yang menarik tiket masuk. Tapi katanya kalau hari biasa, pengunjung bayar 5000 untuk masuk kawasan danau Tolire ini

  2. Terlepas dari kebenaran mitologi tersebut, ajaran yang diajarkan menurutku baik sih, dilarang berkata-kata kasar apalagi di tempat yang bukan wilayah kita, sebagai pendatang kita memang harus berbuat baik dimanapun berada apalagi di tempat yang asing, kita tidak tau bagaimana tempat tersebut bisa membawa hal seperti apa pada kita kalau berbuat buruk

  3. Kak Nanik, menarik ya legenda dan cerita lokalnya. Yang saya tahu tentang Danau Tolire ini awalnya hanya fakta kalau danau ini unik karena merupakan danau air asin yang langka. Fenomena alam yang menarik sih karena air asin dari laut bawah tanah bercampur dengan air tawar dari mata air di sekitarnya. Jadi kebayang gitu kekayaan ekosistemnya di dalamnya. Sayang gak bisa tahu ya karena dilarang melewati batas pagar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *