Usai sholat maghrib, saya rebahan sambil lihat aplikasi pemesanan makanan online, masih bingung mau pesan apa buat makan malam. Lagi asyik lihat menu dan membandingkan harga serta ongkos kirim, telepon di kamar berdering. Dari resepsionis Riverside Homestay Bondowoso, tempat saya menginap malam itu, memberitahu bahwa ada tamu untuk saya menunggu di lobby.
Saya pun lalu bergegas berganti pakaian rapi dan keluar kamar. Rupanya rekan saya bersama istrinya, ngajak keluar untuk ngopi. Hayuk lah.
Rekan saya menanyakan apakah saya sudah makan malam, karena tempat yang akan kami tuju adalah tempat khusus untuk ngopi, jadi hanya menyediakan kopi, tak ada menu makanan. Saya jawab dengan jujur bahwa saya belum makan, dan tak apa-apa kok nggak usah makan dulu, langsung ke tempat ngopi saja.
Tapi rekan saya tetap memaksa saya untuk makan terlebih dahulu, karena membandingkan dengan dirinya, yang tak bisa ngopi saat lambung kosong, karena pasti bakal bermasalah. Saya berusaha meyakinkan bahwa tak masalah buat saya, lagian lambung saya juga nggak kosong kosong amat, kan dari tadi juga ngemil.
Akhirnya diambil jalan tengah, langsung ke tempat ngopi, tapi saya harus bersedia dipesankan menu makan malam di sekitar situ. Baiklah, ngikut saja. Toh, saya kan cuma di ajak, jadi mesti tahu diri.
Bondowoso dan Republik Kopi
Bondowoso, sering disebut kota pensiun. Kota yang sepi, tenang, damai, harga kebutuhan pokok murah, sehingga banyak yang bilang enak kalau setelah pensiun, pindah ke kota ini. Karena itulah mendapat julukan kota pensiun.
Kalau bepergian ke Bondowoso, maka oleh-oleh yang wajib di bawa adalah tape. Baik dalam wujud aslinya, tape singkong, maupun dalam wujud olahannya. Yup, banyak olahan camilan berbahan utama tape singkong.
Itu dulu. Karena kini, kalau ke Bondowoso, saya memilih membawa oleh-oleh kopi. Bondowoso kini semakin dikenal sebagai penghasil kopi berkualitas. Daerah pegunungan di sana menawarkan tanah subur dan iklim yang pas bagi tanaman kopi.
Saat perjalanan mendaki ke kawah Ijen, memang saya banyak menemukan tanaman kopi disepanjang perjalanan menuju Paltuding, titik awal pendakian kawah Ijen. Kebun-kebun kopi milik itu dimiliki dan di kelola oleh Perhutani, ada juga yang dimiliki oleh petani secara individu.
Pada bulan Mei 2026, Bupati Bondowoso kala itu bahkan mencanangkan republik kopi di Bondowoso, sebagai upaya untuk memperkenalkan kopi Bondowoso ke masyarakat luas. Bahkan ada juga kampung kopi, dimana sepanjang jalan itu penuh berjejer kedai kopi.
Tapi terakhir ke sana, 2025, kampung kopi kini sepi. Kedai-kedainya banyak yang tutup.
Tentang Gerboeng Coffee Roastery Bondowoso
Mobil yang kami kendarai berbelok memasuki pekarangan sebuah rumah, ada beberapa mobil yang terparkir di pekarangan itu. Oh, rupanya kami sudah sampai.
Bangunan rumah model lama, peninggalan jaman Belanda gitulah. Walau banyak mobil terparkir, tapi tak nampak ada orang yang duduk-duduk ngopi dan ngobrol. Setelah masuk, barulah saya tahu bahwa di area belakang, terdapat area outdoor dengan banyak pilihan tempat duduk dan beberapa sudah terisi.
Dari pintu masuk, di sebelah kanan terdapat satu set meja dan kursi, sementara di sebelah kiri terdapat mesin roasting. Aroma kopi yang segar segera menghampiri penciuman saya saat menginjakkan kaki di Gerboeng Coffee Roastery Bondowoso.

Lurus dari pintu masuk sebuah meja berukuran agak tinggi, deretan toples berisi aneka macam kopi ada di atasnya. Di sinilah pengunjung dapat melakukan pemesanan kopi, terdapat daftar menu kopi dan juga harganya.

Baristanya menyambut ramah, dan menunggu dengan sabar sebelum kami memutuskan memesan kopi apa. Sebelum pesan, rekan saya juga bertanya apakah kami boleh memesan makan di warung seberang dan memakan di sini?
Ternyata diperbolehkan. Dan setelah ngobrol-ngobrol dengan ownernya, barulah saya tahu kenapa di sini tidak menyediakan menu makanan, bahkan sekedar camilan pun tak ada. Menurut penuturannya, karena ada banyak warung di sekitar Gerboeng Coffee Roastery, jadi untuk mendukung para pelaku UMKM di sekitar, kafe ini sengaja tak menyediakan menu makanan. Kalau pengunjung ingin makan, dipersilakan memesan di warung sekitar, dan makannya boleh di bawa ke area Gerboeng Coffee Roastery.
Rekan saya memesan Japanese coffe. Saya yang nggak ngerti tentang kopi, karena biasanya juga minum kopi sachetan, akhirnya memilih pesan Black Diamond Coffe, yang merupakan best seller di sini. Sementara istri rekan saya, sudah menuju warung di seberang, memesan menu makan malam.

Secangkir Kopi dan Obrolan Panjang
Setelah memesan, kami dipersilakan memilih tempat duduk lewat pintu di samping meja pemesanan. Ternyata ada satu lagi mesin roasting kopi di area belakang meja pemesanan. Setelah melewati ruangan kecil yang berisi mesin roasting kopi, nampaklah meja kursi kayu sederhana. Sebagian sudah diduduki oleh pelanggan lain. Setelah memotret beberapa bagian area tempat duduk, saya pun memilih meja untuk tempat kami ngopi. Rekan saya, menyusul istrinya ke warung makan di seberang.

Ada beberapa tulisan di dinding, yang menarik juga untuk diabadikan. Namanya kedai kopi, pasti tulisan-tulisan itu juga berkaitan dengan kopi. Saya sebenarnya pengen berfoto di dekat salah satu tulisan itu, tapi hingga kami pergi meninggalkan Gerboeng Coffee Roastery, kedua pengunjung yang lagi asyik ngobrol ini masih betah aja duduk di sana.

Tak lama setelah saya memilih tempat duduk, pesanan pertama datang. Pesanan rekan saya, Japanese coffe. Dua gelas bening, salah satunya berisi es batu, serta teko kecil berisi seduhan kopi. Jadi tergantung selera, mau dinikmati panas atau dingin.
Lalu rekan saya datang, diiringi seseorang yang membawa piring berisi nasi dan lalapan tahu tempe ayam lengkap dengan sayuran. Mesti makan dulu nih sebelum menyesap Black Diamond Coffe pesanan saya yang disajikan dalam cangkir pink beralas tatakan dari kayu.

Edukasi tentang Kopi di Gerboeng Coffee Roastery Bondowoso
Kami menikmati makan malam, kopi dan juga ngobrol berbagai macam hal hingga menjelang pukul sepuluh malam. Sebelum pulang, tuan rumah menawari saya untuk membawa kopi sebagai oleh-oleh.
Jadi di Gerboeng Coffee Roastery Bondowoso ini juga menjual kopi murni. Beneran kita pilih mau kopi jenis apa, masih berupa biji kopinya. Bisa pilih mau digiling halus atau agak kasar.

Sambil menunggu pesanan kopi di timbang, di giling dan di kemas, kami ngobrol dengan owner Gerboeng Coffee Roastery Bondowoso. Kami juga memperoleh banyak informasi tentang kopi, karena ternyata beliau pernah tinggal di Belanda beberapa tahun, khusus untuk belajar tentang kopi.
Dari Beliau, saya memperoleh informasi bahwa kopi Arabica memiliki wangi lembut dengan sedikit aroma buah. Rasanya halus, sedikit asam, dan elegan. Sedangkan Robusta, sebaliknya, punya aroma lebih kuat dan rasa pahit yang tegas, dengan kandungan kafein yang lebih tinggi.
Beliau juga menuturkan, membuka kafe ini tujuan utamanya memang bukan mencari uang, tapi menyediakan ruang bagi pecinta dan penikmat kopi. Selain itu juga sebagai pengisi waktu, sambil menunggui kebun kopi miliknya.
“Kalau mau untung, saya bakal buka kafe di Surabaya, atau Malang” begitu Beliau berucap.
Malam itu saya meninggalkan Gerboeng Coffee Roastery Bondowoso dengan rasa penuh. Lambung penuh terisi makanan dan juga kafein dari secangkir kopi. Pikiran penuh dengan pengetahuan baru. Penuh tawa dan kehangatan persahabatan yang baru saja diperbarui.
Pasti seru bisa ngobrol langsung dengan owner Gerboeng Coffee Roastery Bondowoso.
Pasti banyak informasi tentang kopi, apalagi pernah tinggal di Belanda, khusus untuk belajar tentang kopi. Ilmunya langsung dari ahlinya nih ya…
Wah apik banget tempatnya ya. Bijak sekali. Menjual kopi tanpa makanan apapun karena ingin tetap mendukung warung-warung yang ada di sekitar warung kopi. Jarang banget loh itu terjadi. Apalagi sampai mengizinkan kita untuk menikmati pesanan makanan di tempat mereka. Semoga dengan cara begini, Gerboeng Coffee Roastery jadi dapat berkahnya. Kualitas kopinya semakin baik dengan penjualan yang semakin meningkat.
Mengingat bangunannya bertema retro, jadi ini dibaca menurut ejaan lama atau eyd baku ya mbak?
Sepintas saya kira brandnya dibaca Gerbong tapi logonya pun saya amati bukan gerbong kereta, jadi penasaran hehe
wow jadi pingin ke Bondowoso dan ke sini
karena keren banget, coffee hanya menyediakan kopi sehingga pasti kopinya tak terlupakan
juga untuk mendorong kemajuan UMKM sekitar
(Biasanya malah ada yang “nyaplok” UMKM yang terkenal laris)
Adiknya menikmati secangkir kopi nikmat. Kalau daku lihat fotonya, kayaknya aroma kopinya bikin happy ya, dan segar gitu. Siip nih, jadi rekomen kalau nanti ke Bondowoso, meski daku bukan penikmat kopi sejati sih hehe
Cocok nih, ngopi plus ngobrol ngalur ngidul bareng teman akrab sambil menikmati suasana ya cozy ya.