Saya sedang berada di Tasikmalaya, dan baru saja balik ke hotel setelah berburu oleh-oleh khas Tasikmalaya, ketika salah satu staf pimpinan menelpon. Karena memang pekerjaan kantor di berbagai kota sedang padat, makan kalimat pertama setelah saling menyapa adalah pertanyaan “posisi?”
Saya jawab kalau sedang berada di Tasikmalaya, dan besok siang kembali ke Malang dengan kereta Malabar. Perkiraan malam sampai Malang.
“Ok, kalau begitu lusa bisa ke Denpasar ya. Kegiatan bla bla, tugasnya begini begitu”
Baiklah. Sepulang dari Tasikmalaya, sekitar pukul 11 malam sampai rumah. Istirahat sebentar dan paginya saya harus segera packing lagi untuk berangkat ke Denpasar. Beruntung rekan seperjalanan saya setuju untuk mengambil penerbangan siang saja, supaya saya ada waktu beberapa jam menemani anak-anak.
Begitulah jadinya. sekitar jam 3 WITA, disambut hujan rintik, pesawat yang saya tumpangi mendarat di Denpasar. Rekan saya segera memesan taksi online untuk mengantar ke hotel.
Dalam perjalanan ke hotel, terjebak di kemacetan lalu lintas, saya bilang ke rekan seperjalanan, saya butuh asupan kopi dan juga pemandangan segar. Lalu saya ingat postingan salah satu rekan blogger yang menuliskan tentang Rumah Momo. Saya buka handphone lalu mengetikkan kata Rumah Momo di kolom pencarian penelusur web, lalu saya tunjukkan ke rekan tersebut.
Dia pun antusias setelah melihat gambar-gambarnya. Apalagi dia tuh emang gen Z yang suka buat konten juga di beberapa akun media sosialnya. Jadilah, setelah sampai hotel, menaruh bawaan dan berkoordinasi dengan panitia di Denpasar untuk kegiatan besok, kami pun meluncur menuju Rumah Momo.
Masuk Lewat Pintu Belakang
Masih menyisakan gerimis saat kami tiba di Rumah Momo Denpasar. Lokasinya emang di tepi jalan, tapi bukan jalan raya utama, malah nampaknya jalan sebuah perumahan. Alamat tepatnya ada di Jl. Drupadi III 1 C, Sumerta Kelod, Denpasar Selatan.
Kami lihat banyak sepeda motor terparkir di jalan depannya. Pagar bambu setinggi pinggang menjadi pembatas antara rumah Momo dan jalan raya. Menilik tempatnya yang tak terlalu besar, kami sudah berprasangka jangan-jangan penuh nih tempatnya.

Kami pun lalu berjalan masuk “gerbang” dan ketemu sebuah pintu kayu tertutup. Ada tulisan di pintu tersebut, yang mengarahkan pengunjung untuk masuk lewat pintu belakang. Baiklah, kami pun lalu melipir ke samping, melewati tempat duduk bagi para pengunjung di area outdoor, dan menemukan pintu di samping ruang utama. Kami lihat ada orang keluar masuk dari pintu itu, oh rupanya ini yang dimaksud dengan pintu belakang. Padahal letaknya di samping. Ah sudahlah, tak usah terlalu dipikirkan.

Ramai Pengunjung, Namun Suasana Tenang
Masuk lewat pintu belakang, di sisi kanan terdapat meja panjang, diatasnya ada bungkusan kopi bubuk dalam berbagai kemasan, ada juga biji kopi dan wadah berbagai ukuran. Mesin penggiling kopi, gelas aneka bentuk dan beberapa perlengkapan lain yang dibutuhkan barista untuk meracik minuman yang di pesan pelanggan. Di ujung meja terdapat meja kasir, ada lembar menu di depannya. Pengunjung memesan menu dan langsung membayar.

Sementara di sisi kiri, meja kursi untuk pengunjung. Sebuah rak buku besar berisi penuh buku (rata-rata komik), disebelahnya bersandar sepeda tua. Di atas seepeda, menempel di dinding terdapat sebuah papan hitam berisi informasi tentang rumah momo Denpasar.

Rumah Momo adalah tempat dimana kata-kata berubah menjadi menu dan buku-buku menjadi hidangan utama. Sebuah perjalanan yang penuh imajinasi, dimana setiap buku adalah tiket petualangan. Seperti secangkir kopi yang menggelitik indera dan menghangatkan hati serta buku-buku yang membuka pikiran, setiap halaman adalah pelukan yang menghantarkan pesan. Merayakan beragam cerita dan ide-ide yang membuat hidup semakin berwarna. Kami adalah rumah bagi para pecinta buku dan pecinta kopi yang ingin menjelajahi, belajar, dan berkumpul dimana kreativitas dan inspirasi mengalir seperti sungai tawa untuk merayakan kata-kata dan merajut kisah bersama
Saat kami datang, rupanya tempat duduk di dalam sudah penuh. Kasir memberikan lembaran menu untuk kami bawa, dan mempersilakan memilih tempat duduk di luar. Ini sepemahaman saya, karena tangannya menunjuk arah luar. Lha padahal tempat duduk di luar tadi sekilas saya lihat basah karena memang habis hujan. Eh, untungnya. Ada pengunjung yang beranjak, jadi kami memilih menunggu meja dibersihkan dan berniat duduk di situ saja.

Sambil menunggu meja dibersihkan, saya pun mengamati ruangan yang sebenarnya tak terlalu luas ini. Di dinding yang berhadapan dengan rak buku besar, ada sebuah rak yang berisi berbagai macam perangkat audio jadul. Kaset, VCD, walkman dan beberapa jenis pemutar musik lainnya. Berbagai merk kamera analog juga ada. Barang-barang yang kini tak digunakan, rupanya bagus juga ya untuk dijadikan hiasan.

Sekelompok remaja di salah satu meja sedang asyik bermain kartu. Sementara di meja lain ada yang asyik berdiskusi, ada laptop terbuka di hadapan mereka. Sepertinya sedang mengerjakan tugas. Ada juga yang duduk sendirian, asyik mengerjakan sesuatu di laptop. Ada yang memilih-milih buku di rak, setelah dapat lalu di ambil dan dibawa keluar. Saya pikir, mau di baca di luar sambil menunggu pesanan makanan dan minuman.
Rekan seperjalanan saya agak menyesal, kenapa tadi nggak bawa laptop. Kan bisa sambil kerja di sini, katanya. Rata-rata anak remaja yang yang jadi pengunjung Rumah Momo malam itu. Kata teman saya, perkiraan anak-anak SMP dan SMA. Dan satu kalimatnya yang membuat saya tersenyum kecut “Ini vibesnya cocok emang buat anak usia segitu, kalau ibu ke sini, kesannya lagi nganter anaknya”
Dan lalu langsung saya jawab “Ya, kan lagi nganterin kamu ngafe di sini”

Yang bikin betah berlama-lama di sini, walau banyak pengunjung, tapi suasana tidak riuh. Selama saya di sana, tak suara-suara percakapan/teriakan/tawa keras yang menganggu. Semua pengunjung ngobrol dengan suara yang cukup di dengar lawan bicaranya saja.
Mencicip Menu di Rumah Momo Denpasar
Setelah meja bersih, kami pun duduk dan mulai menekuni lembaran menu. Aneka pilihan minum dan makanan ringan maupun berat, lengkap pula dengan harganya.

Setelah mata menelusuri deretan menu, saya pun memutuskan memesan hot Vietnam drip, sementara rekan saya memesan Iced strawberry jam. Tak menunggu lama, pasanan minum kami pun diantarkan. Walau saya pesan kopi panas, tapi tetap saja disertakan juga es batu dalam gelas kecil. Awalnya saya berharap, gelas kopinya bening, dan sudah siap pula kamera ini mengabadikan tetesan kopi di gelas. Eh, pas datang, ternyata bukan gelas bening.

Karena perut kami lapar juga, jadi kami pun memesan makanan berat. Ayam sambal matah untuk saya, dan sapi blackpepper pilihan rekan saya. Lagi asyik ngobrol pesanan rekan saya diantarkan. Saya persilakan dia makan duluan, tapi katanya ntar bareng aja, paling juga nggak lama lagi diantar.
Kami pun lanjut ngobrol lagi sambil menunggu. Pesanan meja sebelah kok udah diantar, padahal yang datang duluan kami. Wah, saya mulai merasa ada yang aneh. Apalagi setelah saya lihat pesanan pengunjung di luar juga sudah diantar, padahal selang waktu kedatangannya dengan saya lumayan lama.
Rekan saya pun berinisiatif menanyakan ke kasir, dan ternyata, pesanan saya lupa di catat. Tadi saat membayar, rekan saya juga nggak memperhatikan struk pembayarannya. Pantes aja, kok sampai lama pesanan saya belum diantar juga.
Dan tak lama setelah konfirmasi, pesanan saya pun datang juga. Makanan kami sama-sama diwadahi mangkuk. Selain ayam ada juga telur ceploknya, sementara untuk rekan saya, selain daging sapi, ada juga telur dadarnya. Emang sih, di lembaran menu tertulis juga bahwa menu nasi sudah termasuk telur. Kami pun lalu makan, sambil sesekali ngobrol ataupun memperhatikan lalu lalang pengunjung.

Porsi nasinya banyak sekali, kami berdua sama-sama tak mampu menghabiskannya. Walau sudah mengunyah pelan, dan berlama-lama di situ, tetap saja kami tak mampu. Akhirnya memang harus tersisa, dan sebelum meninggalkan rumah moho, kami mohon maaf pada petugas karena makanannya tak habis. Bukan karena tak enak, tapi karena daya tampung lambung kami terbatas. Lain kali kalau berkesempatan ke sini lagi, kami harus memesan nasinya setengah saja.

Sambal matahnya saya suka, perpaduan irisan bawang dan cabe segar dengan bumbu yang pas dilidah saya. Ayam gorengnya, saya dapat bagian dada. Sebenarnya saya tak begitu suka bagian dada, karena dagingnya tebal, dan lebih suka bagian paha. Tapi ternyata habis juga, karena dagingnya lembut, apalagi berpadu dengan sambal matah yang pedas, sesuai selera saya.
Selesai makan, kami masih lanjut duduk di situ, menghabiskan minuman dan segera beranjak pergi, karena kami lihat makin banyak pengunjung yang datang. Biat gantian tempat duduk dengan pengunjung lain.
Saat menunggu pesanan taksi online, saya sempat ngobrol dengan tukang parkir. Dan memperoleh informasi, bahwa gedung di sebelah area outdoor itu masih punya rumah momo juga. Ada ruang pertemuan lumayan besar, katanya. Ada ruang baca, bahkan ruang introvert juga. Ada tanaman tinggi , semacam pagar yang memisahkan area outdoor dengan gedung sebelah, jadi saya kira itu adalah gedung yang berbeda. Baiklah, semoga ada kesempatan ke Denpasar lagi, dan ngopi di Rumah Momo serta masuk ke gedung sebelah itu. Penasaran dengan ruang introvertnya.

ya ampun dari Tasikmalaya “terbang” ke Den Pasar, semoga selalu sehat ya Mbak
saya pingin ketawa baca, kalo emak-emak yang datang bakal dikira nganter anak
sekarang anak remaja emang gemar nongki di cafe (termasuk library cafe kaya Rumah Momo), kayanya gak sekadar beli suasana tapi FOMO juga.
Gak heran hampir setiap kota (termasuk kota kabupaten) dengan mudah kita temukan
Sambal matahnya menggoda banget. Ada ruang introvert? Maksudnya, khusus untuk pengunjung yang introvert atau bagaimana ruang itu, Kak? Hehehe
rumah jadul justru daya Tarik sendiri.. betah berlama-lama ngopi..
aku pernah ngopi di satu cofeshop bekas rumah belanda, rasanya adem sekali WFC dari sana hehe
akuuu… salfok sama sambal matah-nya yang looks yummy banget
asyik banget ngebawa pembaca ikut ngintip pengalaman ngopi di spot yang bukan sekadar ngopi 😂 — Rumah Momo emang punya vibes nuansa jadul yang nggak mainstream banget, apalagi buat yang sudah bosen sama kafe kekinian yang seragam.
Dari cerita kamu, suasana homey, rak buku penuh komik & novel lawas, sampai pernak-pernik nostalgia tuh bikin tempat ini lebih kayak ruang hangout yang punya “jiwa” daripada sekadar coffee shop biasa