“Ini nanti penginapannya di tepi sungai, Bu” Demikian tuan rumah yang mengantar saya ke penginapan usai kegiatan menjelaskan.
“Sesuai dengan namanya, Riverside”, beliau menambahkan.
Wah jadi penasaran. Saya biasanya kalau ada tugas ke Bondowoso, nginapnya di Grand Padis, atau Ijen. Tapi kini, oleh tuan rumah dipesankan kamar di Riverside Homestay Bondowoso.
Tentang Riverside Homestay Bondowoso
Benar saja, setelah melewati jembatan, kendaraan berbelok ke kiri, nampak satpam mengarahkan mobil untuk terus lurus saja, oh ternyata sudah sampai. Luas juga area parkirnya. Rupanya bukan cuma homestay, tapi ada resto juga yang buka sampai malam dan melayani pengunjung umum.
Riverside homestay Bondowoso, lokasinya ada di Krajan, Koncer Kidul, Kec. Bondowoso, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Lokasinya ada di kota, jadi mudah di jangkau. Cuma emang di Bondowoso ini nggak ada angkutan umum ya, bis maupun angkot. Jadi ya mesti pakai ojek atau taksi online.
Ada D’Garden Resto di lingkungan Riverside untuk memenuhi kebutuhan kuliner pengunjung. Ada kolam renang dan taman outdoor juga di bagian belakang homestay. Saat saya sampai di sana, sekitar pukul 16.00 ada suara banyak anak di area kolam renang.
Area Lobby
Begitu membuka pintu kaca tebal, nampak sebuah meja kaca di tengah ruangan, berisi vas bunga berukuran besar. Sayangnya bukan bunga asli yang ada dalam vas tersebut, melainkan bunga imitasi. Keberadaan meja besar dengan vas bunga di atasnya itu, menutupi meja resepsionis. Begitu saya bergeser langkah ke kanan sedikit, barulah nampak meja resepsionis.

Tuan rumah yang mengantar saya mengkonfirmasi pesanan kamar. Petugas lalu meminta tanda pengenal saya. Kirain cuma mau di cek atau di fotocopi, ternyata untuk di tinggal di situ. Bisa diambil lagi saat saya chek out. Baiklah.
Usai menuliskan no handphone dan menandatangani berkas, saya memperoleh kunci kamar. Saya masih berbincang sebentar di lobby dengan tuan rumah, kesepakatan besok di jemput jam berapa. Setelah itu, tuan rumah berpamitan pulang.
Di arah kanan dari pintu masuk, terdapat satu set sofa dengan warna putih dan merah mencolok. Ada hiasan di dinding belakangnya. Saya sempat duduk di sini keesokan harinya saat menunggu jemputan.

Di arah kiri dari pintu masuk, terdapat sofa juga, dengan warna yang lebih soft. Enak buat ngobrol di sini kalau ada rombongan teman yang datang berkunjung.

Setelah tuan rumah keluar dari hotel, saya pun menuju ke kamar. Melewati sebuah lorong di sebelah kanan resepsionis. Lorong tersebut dibatasi sebuah pintu kaca dengan area lobby. Di tepi lorong ini, ada sebuah taman dan kolam kecil, dengan banyak ikan koi berenang didalamnya.

Kamar Luas dan Nyaman
Kamar saya ada di lantai 1. Cukup luas untuk saya tinggali sendiri selama 2 malam. Sebuah lemari kayu ada di dekat pintu masuk. Ada beberapa gantungan baju, kotak dan kantong plastik untuk laundry.
Satu bed besar dengan beberapa bantal, dan tentu saja selimut berwarna putih, bakal jadi tempat saya meluruskan punnggung. Lampu-lampu saya hidupkan, alhamdulillah kamarnya terang. Pas lah ini kalau buat kerja. Soalnya saya sering tak nyaman dengan kamar hotel yang walau semua lampu sudah dihidupkan, tetap saja saya rasakan redup, kurang terang.

Sebuah meja kerja, dengan beberapa perlengkapan minum di atasnya. Ada juga telepon, yang akhirnya saya gunakan untuk memesan layanan makan malam di kamar. Sayang posisi kursinya tepat dengan arah angin AC berhembus, jadi saya nggak kuat lama-lama duduk di situ kalau AC dihidupkan.

Saya buka korden di samping tempat tidur. Rupanya dinding kaca, dan ada pintu gesernya yang dalam posisi terkunci. Kuncinya tergantung. Saya coba buka dan keluar. Ada dua buah kursi rotan dan sebuah meja kaca, lengkap dengan asbaknya. Sebuah taman kecil di depan kamar ini, lumayanlah menyegarkan pandangan sebelum menumbuk tembok tinggi pembatas area homestay dengan sepertinya kebun penduduk, karena nampak pohon mangga dan juga pohon pisang yang menjulang tinggi.

Ada satu lembar daftar menu makan di atas meja kerja. Dan ada juga satu buku menu tebal dengan daftar menu yang lebih lengkap dari D’Garden Resto yang ada di area homestay. Saya lihat harganya relatif murah, apalagi kalau ukuran makanan di hotel.

Karena saya malas keluar kamar, saya cari-cari menu makan di luar menggunakan aplikasi pemesanan makanan online. Saya bandingkan harga makanan dengan ongkos kirimnya, ternyata malah lebih mahal dibanding kalau saya pesan di D’Garden Resto. Jadilah saya pesan makan untuk di antar ke kamar saja. Saya pesan nasi tempong bebek dan juga pisang goreng.

Ruang Makan yang Sepi
Pagi datang. Usai mandi dan bersiap-siap, saya pun menuju D’Garden resto untuk menikmati menu sarapan. Saya masuk ke area resto dari arah pintu samping. Di bagian samping ini merupakan area makan terbuka, dengan banyak set meja kursi dan payung di atasnya. Ada kolam renang di taman area outdoor ini.

Sepi, hanya ada satu petugas di resto. Setelah menyebutkan nomor kamar, saya pun mulai melihat-lihat menu yang ada. Irisan buah dan juga salad, gorengan pisang dan bakwan. Bubur ayam dengan berbagai macam pilihan toping, aneka macam cake dan roti tawar lengkap dengan selai aneka rasa. Yang terbiasa sarapan ala barat, ada sereal dan susu.

Untuk menu makan utamanya, ada nasi putih, nasi goreng, mie goreng. Lauknya ada ayam goreng dan daging ikan, entah dibumbui apa. Sayuran tumis sawi putih, wortel dan irisan bakso. Tak ketinggalan kerupuk dan juga sambalnya.

Saya lagi malas makan berat, jadi ambil dua potong pisang goreng dan satu bakwan, sepiring kecil irisan buah semangka. Tak lupa secangkir kopi tanpa gula di tambah susu. Sudah cukup untuk sumber energi setengah hari ini sampai menuju waktunya makan siang.

Makan pelan-pelan sambil mengamati suasana sekitar. Meja kursi yang tertata rapi. Luas juga area restonya ini, dengan tempat duduk di dalam maupun luar ruangan. Hingga saya selesai sarapan, tak ada tamu lain yang datang ke resto untuk menikmati sarapan.

Hari kedua sarapan di sini, saya menemukan menu gado-gado. Sudah pasti ini yang langsung saya ambil, sepiring kecil saja dilengkapi isiannya. Sayuran fresh, lontong, tahu tempe goreng. Sambal kacangnya tidak pedas, jadi saya tambahi sambal sendiri yang tersedia di situ juga.

Sebagai penutupnya, ada gorengan bola-bola ubi ungu, dan juga bala-bala. Cocok jika ditemani dengan secangkir kopi tanpa gula. Saya sengaja berlama-lama di sini, tapi sama seperti kemarin, sampai saya meninggalkan resto, tak ada tamu lain yang menikmati sarapan di sini.

Padahal semalam, saya dengar ada keramaian di kamar sebelah, suara orang ngobrol juga di balkon. Tapi pagi pas saya keluar, sudah sepi, dan pintu kamar sedikit terbuka, sepertinya tamunya sudah chekout.
Hotel Transit di Bondowoso
Saat chekout sambil nunggu jemputan, saya sempatkan ngobrol dengan resepsionis. Rupanya emang semalam banyak tamu, tapi jam 1 an dini hari, mereka sudah chekout, karena akan mendaki ke Ijen. Oh, pantesan.
Emang sih kalau wisatawan mau mendaki ke Gunung Ijen dan melihat keindahan kawah Ijen, sebaiknya berangkat sekitar jam 1, supaya pas sampai puncak Ijen bertepatan dengan momen matahari terbit.
Kalau mau ke Ijen, emang ada yang pilih menginap dan berangkat dari Banyuwangi, ada juga yang dari Bondowoso.
Kalau suatu saat saya ada tugas ke Bondowoso, apakah akan menginap di sini lagi?
Yes!
Lobby nya nyaman ga mbak kalau dari foto, bisa untuk duduk-duduk misal sore hari bingung mau kemana. Penginapan di tepi sungai bikin betah gak sih.jadi pengen ngerasain
Suasananya hangat tapi tenang ya mbak Nanik, khas kota kecil yang adem. Jadi pengen nyobain nginep di Riverside juga deh — apalagi ada resto dan kolam renangnya, komplit banget buat short escape tanpa ribet.
Aku sepertinya suka sama kondisi yang tenang aman damai seperti ini deh mbak Nanik!
You know what is my bucket list is? Nginep di AMAN JIWO hahahaaaa aaamiiiin
Riverside. Semacam hotel transit buat pengunjung yang mau ke ijen ya. Kayaknya, kalau nanti ke ijen, aku bakalan transit di sini jugalah.
Melihat tempatnya seperti cocok buat kegiatan seperti workshop menulis dan kerajinan tangan ya Mbak. Hening dan bisa membantu meningkatkan konsentrasi. Apalagi jika cuacanya mendukung dan gak perlu repot ke luar hotel buat menikmati kuliner karena pesan di hotel aja sudah cukup dengan harga yang pas di kantong. Kenyamanan di sebuah kota kecil yang boleh juga dijadikan tujuan menenangkan hati.
Wah mauuuu
ke kawah Ijen dan menginap dulu di sini
saya belum pernah ke Bondowoso, jadi penasaran kuliner khasnya
setelah searching nemu ini: tape singkong manis, kopi arabika Ijen, dan nasi mamong.
wah tambah penasaran deh
Wow mewah betul. Pasti nyaman banget deh di sini. Cus kalok ke Bondowoso wajib deh nyobain ke Riverside.
Jauh uyy dari Bandung hehe.. tapi baca ulasannya kak Nanik berasa lagi staycation virtual hihi..
Terlihat adem dan nyaman banget soalnya
wah, ada menu breakfast gado-gado. menarik ya 😀