pura luhur tanah lot

Pagi di Pura Luhur Tanah Lot, Antara Keindahan Laut, Spiritualitas, dan Riuh Wisatawan

Sekitar pukul delapan pagi ketika rombongan kami tiba di area parkir kawasan Pura luhur Tanah Lot. Walau masih pagi, ternyata sudah ada beberapa kendaraan pribadi, maupun bus yang sudah lebih dahulu ada di area parkir. Tapi saya tak sempat mencari dan menemukan papan informasi, jam berapa kawasan wisata ini di buka, karena pihak pemandu rombongan sudah mengarahkan kami untuk segera masuk ke gerbang kawasan wisata. Mau di hitung sama petugas tiket di pintu masuk.

gerbang tiket kawasan pura tanah lot

Pura Luhur Tanah Lot berada di desa Beraban, kabupaten Tabanan. Obyek wisata ini menjadi tujuan pertama yang kami datangi, sehingga memang masih pagi kami sampai di sini. Saat itu cuaca mendung, bahkan tadi saat meninggalkan penginapan masih diiringi hujan gerimis.

Dari penginapan di tengah kota Denpasar menuju kawasan Tanah Lot, akses jalannya sudah bagus. Tapi memang ada beberapa jalan sempit yang kami lalui. Sehingga bus yang membawa rombongan kami, beberapa kali harus menepi bahkan berhenti saat berpapasan dengan sesama bus.

Suasana Pagi yang Hidup: Ramai Namun Tenang

Meski masih pagi, Tanah Lot sudah ramai pengunjung. Saya melihat banyak rombongan wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Rombongan saya aja ada 6 bus, belum lagi rombongan lain. Jadi sepagi itu, sudah ramai banget kawasan ini.

Di jalur menuju area utama, beberapa pedagang lokal mulai membuka kios. Ada yang menyapu bagian depan kios. Ada yang membersihkan barang dagangannya. Ada yang masih tutup, ada juga yang sudah berteriak memanggil wisatawan yang lewat. Berharap kami mampir, melihat-lihat dan membeli dagangannya.

lapak souvenir tanah lot

Saya melewati jajaran lapak non permanen. Berjejer tanpa dinding, yang penting ada atapnya. Rata-rata menjajakan pakaian. Makin dekat ke arah gerbang kawasan Pura, mulai lah bangunan permanen yang kokoh mendominasi. Barang dagangannya juga bermacam-macam, pakaian, aneka kerajinan, dan juga makanan.

toko souvenir

Setelah melewati jajaran lapak dan toko oleh-oleh, nampaklah gerbang menuju kawasan pura. Gerbang yang terbuat dari batu hitam. Ada penanda bertuliskan Pura Tanah Lot di sisi kiri gerbang. Banyak perempuan berkain Bali menjajakan bunga kamboja berwarna warni, ada yang asli ada yang imitasi. Sambil memperagakan bagaimana menyelipkan bunga tersebut di telinga. Harga satuannya 5 ribu. Entah apakah dapat di tawar atau tidak, karena setiap ada yang mendekat menawarkan dagangan, saya tanggapi dengan senyum dan gelengan kepala saja.

pura luhur tanah lot

Karena banyak pengunjung, susah sekali mendapatkan foto yang bersih dari lalu lalang orang lewat. Bahkan, karena saya datang dengan bersama rombongan yang jumlahnya sekitar 200 orang, ada saja teman yang menganggu kala mau beraksi buat di foto.

gerbang pura tanah lot

Sejarah Singkat Pura Luhur Tanah Lot

Keindahan Tanah Lot bukan hanya soal panorama, tetapi juga kisah panjang yang menyertainya. Menurut cerita yang disampaikan pemandu lokal, pura ini didirikan pada abad ke-16 oleh Dang Hyang Nirartha, seorang pendeta penyebar ajaran Hindu dari Jawa. Beliau diyakini melihat pancaran cahaya suci di sebuah batu karang menjorok ke laut, lalu membangun pura sebagai tempat pemujaan kepada Dewa Baruna, dewa laut dalam kepercayaan Hindu Bali.

Nama “Tanah Lot” sendiri berasal dari kata tanah yang berarti daratan, dan lot atau lod yang berarti laut. Jadi, Tanah Lot dapat dimaknai sebagai “daratan di tengah laut”.

Sejak dulu hingga kini, pura ini menjadi salah satu pura kahyangan jagat yang disucikan, yaitu tempat pemujaan penting bagi masyarakat Hindu Bali.

pura luhur tanah lot

Kini Tanah Lot tetap menjadi ruang spiritual yang vital bagi umat Hindu Bali. Upacara keagamaan rutin digelar di sini, terutama saat Hari Odalan, hari peringatan berdirinya pura, yang berlangsung setiap 210 hari menurut kalender Pawukon.

Meskipun menjadi destinasi wisata dunia, warga Bali tetap menjaga kesucian area pura utama. Tidak semua kawasan dapat dimasuki wisatawan, sehingga keseimbangan antara fungsi religius dan aktivitas pariwisata tetap terjaga.

larangan masuk pura

Mengamati Aktivitas Wisata dan Kehidupan Lokal

Saat air laut sedang surut, saya berjalan mendekati batu karang tempat pura berdiri. Beberapa wisatawan tampak sibuk berfoto, sementara yang lain memilih menikmati pemandangan tanpa kamera, seolah ingin menyimpan keindahan itu hanya untuk diri mereka sendiri.

Saya, setelah memandang ke arah pura, merekam dalam ingatan dan merekam juga dengan kamera, lalu mencari posisi untuk mengabadikan juga bahwa saya pernah ke sana. Dengan bantuan seorang teman, jadilah beberapa foto berlatar belakang Pura Luhur Tanah Lot.

pura luhur tanah lot

Ada beberapa warga lokal, dengan pakaian khas nya, menawarkan jasa foto. Menunjukkan contoh cetakan beberapa hasil foto. Saya lihat ada rombongan ibu-ibu yang menerima tawaran tersebut, tapi saya amati lebih banyak wisatawan yang menolak. Hampir semua pengunjung saya yakin sudah membawa ponsel berkamera, jadi mungkin merasa lebih nyaman mengabadikan dengan kamera ponselnya masing-masing.

pura luhur tanah lot

Puas mengamati Pura Luhur Tanah Lot dari berbagai sisi, saya pun masuk ke salah satu warung, memesan satu buah kelapa muda. Berukuran besar, seharga 25 ribu. Menikmati air kelapa muda yang segar, sambil mengamati lalu lalang pengunjung. Sesekali melambai saat ada teman serombongan lewat.

Menutup Pagi dengan Perasaan Penuh Syukur

Sebelum meninggalkan kawasan Tanah Lot, saya memandang sekali lagi pura yang berdiri kokoh melawan waktu dan ombak. Keindahannya bukan hanya soal pemandangan, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat Bali merawat warisan budaya dan spiritual ini.

Kunjungan pagi itu bukan sekadar perjalanan wisata, tetapi pengalaman yang membuat saya semakin memahami kearifan lokal Bali—bahwa alam, budaya, dan spiritualitas selalu berjalan berdampingan, menciptakan harmoni yang memikat siapa pun yang datang.

sunset point

12 Comments

  1. Terakhir saya ke Bali tahun 2006, Tanah Lot sepertinya masih sama mbak, setidaknya pulau kecil di perairan itu masih mirip dengan foto saya berpuluh tahun silam.
    Hmmm jadi rindu, semoga bisa kembali main ke Pulau Bali satu saat nanti, Aamiin

  2. Keindahan Pura Luhur Tanah Lot di pagi hari memang tak tertandingi; perpaduan antara spiritualitas pura yang sakral dan deburan ombak Samudra Hindia menciptakan suasana damai yang magis, meskipun keramaian wisatawan mulai terasa seiring beranjaknya waktu ya.

  3. Keren banget cerita kaka tentang Tanah Lot, kenapa aku kalau buat artikel ga bisa kaya gini ya. Btw saya jadi kebayang suasana lautnya yang indah, angin sore, dan vibes spiritualnya yang kuat. Padahal saya ke Bali sudah beberapa kali tapi lom sempat kesana. jadi serasa ikut jalan bareng dan menikmati setiap momennya gegara baca artikelnya.

  4. Saya ke Bali sudah lama, tapi keindahan Tanah Lot dengan Pura Luhur masih sangat memesona mata dan menjadi destinasi wisata paket lengkap di Bali, wisata alam dan wisata religi memberi kepuasan jiwa melalui mata.

  5. Salah satu destinasi wisata favorit saya di Bali. Duduk menghadap ke laut gak cuma bicara soal keindahan tapi juga menikmati deru dan hantaman air laut di pinggir pantai. Pernah tahunan yang lalu menginap di salah satu hotel dan nongkrong di salah satu cafe di sini. Merasakan cantiknya sunset sembari terus menggaungkan betapa Dia sudah menciptakan tempat yang patut dijaga kelestarian dan keindahannya. Ah jadi kangen ingin segera balik ke Tana Lot.

  6. Baca ini jadi kebayang gimana uniknya Tanah Lot. Indahnya laut tapi tetap ada sisi spiritual yang kuat. Walaupun belum pernah ke sana, rasanya bisa ikut ngerasain riuhnya wisatawan yang bercampur dengan suasana sakralnya. Jadi makin pengen masukin Tanah Lot ke daftar tempat yang wajib dikunjungi.

  7. pernah nih saya ke Tanah Lot, tapi udah puluhan tahun silam hehehe

    itu pun hanya lihat dari jauh karena udah sore dan air udah pasang

    enaknya dijadwalin datang pagi hari supaya bisa ekeplorasi lebih banyak nya?

  8. Kalau lagi ramai begitu, untuk berfoto pastinya bocor kak. Paling diakalin pakai aplikasi editing, baru bisa bersih.

    Boleh nih buat jadi tempat traveling, bisa eksplor banyak tempat

  9. Ada 3 hal penting di sini yaitu keindahan tebing karang dan ombak, kedalaman spiritualitasnya sebagai salah satu Pura Kahyangan Jagat, dan dinamika riuh para wisatawan. Poin tentang bagaimana pura ini tetap menjadi tempat suci di tengah keramaian adalah pengingat yang penting. Benar-benar destinasi yang menarik dikunjungi!

  10. Mba banyakkan bule apa.lokalnya kalau daerah kawasan Pura luhur Tanah Lot.. , kangen Bali juga semoga ya Bali tetap terawat kearifannya, budayanya senang2 bisa jlan2 sambil.kerja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *