gong perdamaian dunia ambon

Menjemput Pagi di Manise, Jalan Santai dari Hotel Marina ke Simbol Kedamaian Ambon

Pagi pertama saya di Ambon dimulai dengan cara yang sederhana, berjalan kaki. Menginap di Hotel Marina, saya memilih bangun lebih awal, sebelum matahari benar-benar naik. Udara masih segar, jalanan belum ramai, dan kota Ambon terasa begitu tenang, seolah menyambut siapa saja yang ingin mengenalnya lebih dekat.

Alih-alih kembali tidur setelah subuh, saya mengenakan sepatu, membawa botol air kecil, lalu melangkah keluar hotel. Rute jalan pagi hari itu sudah saya niatkan sejak semalam, Hotel Marina – Gong Perdamaian Dunia Ambon– Taman Pattimura – kembali ke hotel.

Kenapa memilih 2 tempat itu? Karena saat saya cek di google maps, lokasinya tak begitu jauh dari hotel Marina. Waktu saya konfirmasi ke petugas hotel, dia mengiyakan bahkan memberikan petunjuk arah. Intinya, dari depan hotel, saya tinggal mengikuti jalan ke satu arah saja, tak ada belok-belok sampai ketemu Museum Gong Perdamaian Dunia di sebelah kanan jalan.

Menyusuri Pagi Ambon yang Bersahabat

Dari Hotel Marina, langkah kaki saya menyusuri jalanan kota yang perlahan mulai hidup. Satu dua kendaraan melintas, warga yang berolahraga jalan kaki maupun lari, pedagang kaki lima yang bersiap mendirikan lapaknya. Beberapa supir angkot yang melintas, memperlambat laju kendaraannya saat melewati saya, menawarkan angkotnya. Saya jawab dengan lambaian tangan, menandakan saya tak akan naik angkot. Iyalah, kan saya niatnya olahraga, mau jalan kaki.

Jalan pagi di Ambon bukan sekadar olahraga, tapi seperti ikut mengintip rutinitas warga lokal.

Trotoar ada yang bagus, ada juga yang pecah-pecah dan rusak parah. Terdorong oleh akar pepohonan besar yang ada di sepanjang jalan. Walau demikian, tetap nyaman berjalan pagi di kota Ambon ini. Yang membuat saya nggak nyaman, adalah saat melihat anjing di kejauhan. Jadi memelankan langkah, berharap anjing itu pergi sebelum saya lebih dekat ke posisinya.

Setelah berjalan sekitar 15 menit, mulai nampak kawasan gong perdamaian Ambon.

Gong Perdamaian Dunia Ambon; Diam, Besar, dan Penuh Makna

Gong perdamaian dunia Ambon berada di dalam area sebuah taman, diletakkan di tempat yang agak tinggi. Dan ternyata, taman itu dikelilingi pagar. Saya pun memutar mengelilingi pagarnya, berharap ketemu pintunya.

Ketemu pintu pagar, dan ternyata dikaitkan menggunakan rantai. Ada gemboknya, tapi setelah teman saya mengecek, ternyata tidak terkunci. Saya tadinya sudah pasrah aja, nggak bisa masuk mendekat ya sudah, lihat dan memotret dari luar saja. Tapi teman saya meyakinkan untuk membuka saja, membuat celah supaya kami bisa masuk.

Baiklah, toh kami nggak berniat jahat. Jadi saya pun mengikutinya untuk masuk.

gong perdamaian dunia ambon

Monumen ini berdiri dengan begitu megah di atas deretan anak tangga yang luas. Di sekelilingnya, hamparan rumput hijau dan pepohonan memberikan nuansa asri yang menyegarkan mata di pagi hari. Secara arsitektural, gong ini diletakkan di bawah sebuah struktur pelindung yang tinggi, menjadikannya pusat perhatian yang tak terelakkan di tengah kota.

Gong ini merupakan salah satu World Peace Gong ke-35 di dunia dan menjadi pengingat kuat tentang pentingnya hidup rukun antar bangsa, antar agama, dan antar budaya. Bagi masyarakat Ambon, gong ini bukan sekadar monumen, melainkan simbol kuat akan semangat perdamaian dan kerukunan pasca-konflik. Berdiri di depannya seolah memberi energi positif untuk memulai hari dengan hati yang damai.

Gong besar berwarna keemasan itu berdiri kokoh, dikelilingi simbol-simbol yang mewakili banyak negara dan agama. Di pagi hari yang sunyi, tempat ini terasa sangat khidmat. Berikut adalah rincian simbol yang tertera pada permukaannya:

  • Bendera Berbagai Negara. Permukaan gong tersebut dipenuhi oleh deretan bendera-bendera dari berbagai negara di dunia yang disusun secara melingkar dalam beberapa baris. Bendera-bendera ini merupakan simbol keterwakilan bangsa-bangsa dalam komitmen menjaga perdamaian dunia.
  • Peta Dunia. Di bagian pusat atau titik tengah gong (pada area lingkaran yang berwarna kuning), terdapat gambar peta dunia atau bola dunia. Simbol ini menekankan bahwa pesan perdamaian yang dibawa oleh monumen tersebut bersifat universal bagi seluruh penghuni bumi.
  • Simbol Keagamaan dan Komunitas. Selain bendera negara, terdapat juga barisan simbol-simbol yang tampak melambangkan berbagai agama dan komunitas besar di dunia yang disusun di area lingkaran bagian dalam, mengelilingi peta dunia tersebut.

gong perdamaian dunia ambon

Saya berdiri sejenak, menarik napas panjang. Sebagai traveller, sering kali kita sibuk berpindah dari satu destinasi ke destinasi lain. Namun di sini, saya justru merasa diajak berhenti dan merenung, tentang perdamaian, tentang kebersamaan, dan tentang Ambon yang pernah melewati sejarah panjang konflik namun kini bangkit sebagai kota yang ramah.

Tak banyak orang pagi itu. Hanya beberapa pejalan kaki lain yang sesekali melintas. Justru di saat seperti inilah, Gong Perdamaian Dunia terasa paling “hidup”, meski tanpa suara.

Melanjutkan Langkah ke Taman Pattimura

Setelah sejenak merenung di area Gong Perdamaian, saya melanjutkan langkah kaki menuju Taman Pattimura yang letaknya sangat berdekatan. Tak lupa merapatkan kembali pintu pagar yang tadi kamu gunakan untuk masuk ke area gong perdamaian dunia. Jika Gong Perdamaian menawarkan suasana yang khidmat, Taman Pattimura menyuguhkan energi kehidupan masyarakat Ambon.

taman pattimura

Taman ini terasa hidup namun tetap tenang. Beberapa orang duduk santai, ada yang jogging, ada pula keluarga kecil yang sekadar menikmati pagi. Saya memilih duduk sebentar di bangku semen yang mengelilingi kolam. Menunggu keluarga muda yang sedang berfoto dengan latar belakang tulisan Taman Pattimura, karena saya ingin memotret juga tulisan itu, sambil mengamati sekitar dan merasakan denyut kota Ambon dari jarak dekat.

Di taman ini, terlihat jelas tulisan Taman PATTIMURA berukuran besar yang menjadi ikon favorit bagi warga maupun wisatawan untuk mengabadikan momen. Salah satu fitur yang paling menarik perhatian adalah adanya kolam air mancur melingkar. Di tengah kolam tersebut, terdapat sebuah monumen unik yang puncaknya berbentuk menyerupai gitar dengan ukiran khas, yang seolah menegaskan identitas Ambon sebagai City of Music atau Kota Musik.

taman pattimura ambon

Permukaan badan gitar tersebut dipenuhi dengan ukiran bermotif sulur, daun, atau pola tanaman yang melengkung dan saling bertautan secara rumit. Gitar berukir ini berdiri tegak di atas sebuah dasar berbentuk kotak yang terletak tepat di tengah kolam air mancur melingkar, menjadikannya titik pusat perhatian di area Taman Pattimura.

Perpaduan antara bentuk gitar yang modern dengan motif ukiran tradisional ini seolah mempertegas identitas budaya Ambon sebagai kota musik yang tetap memegang teguh nilai-nilai seni lokal

Kembali ke Hotel Marina

Setelah cukup beristirahat, saya melangkah kembali menuju Hotel Marina. Matahari mulai naik, kota mulai ramai. Tubuh terasa lebih segar, pikiran lebih jernih, dan hati terasa hangat.

Bagi saya, olahraga jalan pagi saat menginap di Hotel Marina Ambon bukan sekadar rutinitas sehat. Ia menjadi cara paling pelan namun paling jujur untuk mengenal sebuah kota.

Sebagai traveller, saya merasa beruntung bisa mengenal Ambon bukan hanya dari wisata pantai, tetapi juga dari ruang-ruang publik yang penuh cerita seperti ini.

Ambon tak hanya indah untuk dikunjungi, tapi juga nyaman untuk dikenang.

12 Comments

  1. Saya klo jadi mbak juga sama,
    apalagi saat sedang berada di daerah lain, waaah sayang bangeet kalo sampe melewatkan momen jalan kakinya.
    Terlebih nemu situs2 sejarah atau tempat2 ikonik yang bisa ditempuh jalan kaki, selagi ada waktunya harus disempetin.

    Apa karena Ambon banyak melahirkan penyanyi terkenal dan suara2 mereka yang khas makanya dibikin patung gitar yaa … masuk akal sih kenapa disebut kota musik ya

  2. Saya terkesan banget dengan Museum Gong Perdamaian Dunia nya. Gak nyangka kalau bentukannya itu adalah gong secara harafiah (museum berupa gedung) dengan ornamen dari 3 unsur yang saling bertautan. Masyarakat Ambon pasti bangga dengan Gong dengan desain indah dan terlihat gagah begitu. Termasuk Taman Pattimura yang mencerminkan Ambon sebagai kota musik. Gak heranlah ya karena banyak seniman asal Ambon yang musikalitasnya begitu populer di tanah air. Jadi patung gitar itu tuh bener-bener bisa mewakili.

    1. Wah mbak Annie sama nih kayak saya. Kirain juga Gong Perdamaian Maluku itu emang bentuknya kayak bangunan pameran dan walaupun ada gunanya tapi ngga sebesar itu. Eh ternyata emang literary gong segong-gongnya yang gede banget. Kebayang jalan kaki pagi berkeliling santai menikmati udara kota Maluku.

  3. baru tahu tentang Gong Perdamaian Dunia Ambon

    ternyata dibangun untuk mengenang konflik sosial bernuansa SARA tahun 1999

    dihuni banyak suku bangsa dan banyak agama, emang gampang ngurus Indonesia ya

    karena itu penting banget pembangunan simbol kedamaian, agar apa pun yang terjadi kita harus selalu bergandengan tangan

  4. Aku suka seperti Mba Nanik kalau bertandang kesuatu wilayah sebelum beraktivitas sebisa mungkin nyempetin keliling ke beberapa tempat yg sekiranya deket dengan penginapan
    Melihat foto Taman Pattimura jadi penasaran dengan keseluruhan tempatnya yg tampak asri dan ada beberapa patung ornamen alat musik yg menjadikannya unik

  5. Baru ganti theme blog atau saya yang jarang main ke sini ya.. cakep banget gradasi warna latar postingannya.

    Saya jadi ingin tahu lebih banyak, apakah pendirian Gong Kedamaian ini dilatarbelakangi kerusuhan yang pernah melanda Ambon?

  6. Slow living banget mbaaak ini. Eh, aku baru tahu mbak ada Gong Perdamaian juga di Ambon, aku pikir cuma di Denpasar, Bali doang. Gongnya juga mirip bangettttt.

    Tugu gitarnya benar-benar nunjukin identitas Ambon sebagai City of Music ya mbak. Seru banget jalan-jalannya.

  7. Wah baca ini jadi langsung merasa diajak bangun pagi sambil ngelus kopi dan napak tilas suasana Ambon yang manise banget!

    Gaya mbak Nanik nulis tuh bener-bener bikin aku ngerasain slow morning walk dari depan Hotel Marina sampai ke simbol kedamaian kota tanpa ngeburu apa-apa — vibes-nya tenang, padu banget sama energi pagi di Ambon yang damai itu. Ihiy…..

    Menurut aku, rute santainya tuh bikin pembaca kaya diajak healing jalan kaki sambil nyerap hal-hal kecil yang sering kita lewatkan saat traveling. Spot-spot kaya museum atau Gong Perdamaian Dunia itu bukan sekadar destinasi, tapi semacam checkpoint buat kita berhenti sejenak dan ngerasain “Ambon Manise” yang sesungguhnya!

  8. Ambon memang punya daya tarik tersendiri ya. Deskripsi perjalanan dari Hotel Marina sampai ke Gong Perdamaian bener-bener bikin saya bisa membayangkan suasana pagi yang tenang di sana. Meskipun sayangnya ada anjing berkeliaran. Saya juga bakal agak takut.

  9. Mengesankan sekali, berjalan di pagi hari mengenal Kota Ambon dari sisi lainnya. Ternyata sangat tenang dan memukau. Dua destinasi ruang publik yang mudah dijangkau, bahkan petugas atau staf hotel pun mengiyakan kalau keduanya berdekatan. Ternyata taman Pattimura jadi tempat enjoy buat rehat setelah berjalan kaki dan mengumpulkan tenaga buat balik lagi ke hotel Marina.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *